Daerah  

Menembus Seko: Perjalanan 30 Kilometer yang Berubah Menjadi Hari-Hari di Tengah Keterisolasian

Avatar photo

Luwu-Utara-Lintasteropong.com—11 Desember 2025 – Hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Kecamatan Seko seolah berada di wilayah yang jauh lebih terpencil dari sekadar angka di peta. Rute menuju kawasan pegunungan ini menyimpan medan ekstrem yang setiap tahun mengulang kisah keterisolasian. Tim redaksi mencoba menelusuri perjalanan tersebut, menggambarkan kondisi riil yang dialami warga setempat.

Saat kemarau tiba, cuaca yang lebih stabil menjadi harapan utama masyarakat. Tanah yang mengeras memungkinkan perjalanan menuju Seko ditempuh dalam waktu 8 hingga 10 jam. Namun durasi itu bukan angka biasa. Untuk sebuah jarak 30 kilometer, waktu tempuh ini menunjukkan betapa sulitnya akses menuju kawasan yang berada lebih dari seribu meter di atas permukaan laut.

Jalur yang dilalui hanyalah jalan setapak yang membelah hutan: berkelok tajam, menanjak, dan sempit. Pengendara motor trail—moda transportasi utama—mengaku hanya pada musim kemarau mereka dapat bergerak lebih bebas, baik mengangkut kebutuhan pokok, bahan bangunan, hingga hasil kebun untuk dibawa ke pasar Masamba.

Seorang pengemudi trail yang ditemui tim kami menuturkan, “Kalau bukan musim kemarau, jangan harap cepat sampai. Kadang kami harus berhenti puluhan kali.” Pernyataan ini menguatkan gambaran tentang betapa beratnya kondisi akses menuju Seko.

Situasi berubah total saat hujan mengguyur wilayah pegunungan. Tanah merah di sepanjang jalur dengan cepat berubah menjadi lumpur tebal. Motor kehilangan traksi, pengendara kerap terjatuh, bahkan banyak kendaraan terperosok hingga tak dapat bergerak.

Beberapa titik jalur tertutup longsor, sebagian lainnya terputus akibat aliran air dari lereng. Ketika kondisi sudah seperti ini, perjalanan bisa berlangsung 1 hingga 2 hari. Mereka yang tetap memaksakan diri sering harus berhenti berkali-kali, menunggu hujan berhenti, atau mencari bantuan warga untuk mengeluarkan motor dari kubangan.

Pedagang yang masuk dan keluar Seko harus menanggung risiko lebih besar: biaya operasional naik, waktu pengiriman tidak pasti, dan keterlambatan distribusi barang menjadi hal biasa.

Sementara itu, warga Seko yang hendak keluar daerah hanya bisa berharap pada cuaca. Mereka menunggu hari cerah, lalu menempuh perjalanan dengan penuh ketidakpastian.

Meski akses sangat terbatas, kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Seko tetap berjalan. Mereka memahami ritme alam dan menjadikannya pedoman utama: kemarau dipakai untuk membuka akses, sementara musim hujan berarti menahan mobilitas seminimal mungkin.

Pasar lokal tetap beroperasi, anak-anak tetap bersekolah, dan kegiatan pemerintahan tetap berlangsung, meski dengan berbagai penyesuaian. Warga di sana sudah lama terbiasa menghadapi dinamika medan yang tidak menentu.

Pemerintah terus mengupayakan pembangunan jalan menuju Seko sebagai bagian dari peningkatan konektivitas wilayah-wilayah terpencil. Namun kondisi geografis yang berat serta cuaca ekstrem membuat setiap progres pembangunan menghadapi tantangan besar.

Pengerasan badan jalan, pembukaan jalur baru, serta pembangunan jembatan terus dilakukan secara bertahap. Namun dibandingkan wilayah dataran rendah, pembangunan di Seko memerlukan waktu lebih panjang, tenaga lebih banyak, dan biaya lebih besar.

Meski demikian, warga tetap menyimpan harapan. Akses yang lebih baik diyakini dapat membuka ruang ekonomi lebih besar dan mempermudah layanan kesehatan maupun pendidikan.

Perjalanan menuju Seko menyajikan potret ketangguhan masyarakat yang hidup berdampingan dengan medan ekstrem. Jarak 30 kilometer yang di kota-kota besar ditempuh dalam hitungan menit, di sini menjadi perjalanan panjang penuh tantangan.

Itulah realitas yang dijalani warga Seko setiap hari—realitas tentang keterbatasan akses, pergulatan dengan cuaca, dan keteguhan untuk tetap bertahan. Laporan dari pedalaman Sulawesi Selatan ini menunjukkan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang bertarung dengan keterisolasian, menunggu hadirnya akses yang layak dan aman.(Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *