Polman-Lintasteropong.com -— Upacara Peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa digelar khidmat di kawasan Cagar Budaya Monumen Korban Panyapuan Galung Lombok, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis (11/12/2025). Ratusan warga, tokoh masyarakat, pegiat budaya, serta pemerintah daerah hadir untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang hingga kini menjadi bagian penting dalam ingatan kolektif masyarakat Mandar.
Upacara tahunan ini tidak hanya menjadi momentum mengenang para korban, tetapi juga ruang refleksi atas nilai kemanusiaan dan perjalanan sejarah masyarakat setempat. Sejak pagi, warga dari berbagai desa di Tinambung dan sekitarnya mulai berdatangan, sebagian membawa bunga, sebagian lain mengenakan pakaian adat Mandar sebagai bentuk penghormatan.
Upacara dimulai dengan penghormatan kepada para korban dan pembacaan doa lintas agama. Suasana hening menyelimuti area monumen ketika sirene peringatan dibunyikan, mengajak peserta untuk menundukkan kepala selama satu menit mengenang para korban yang gugur pada peristiwa masa lampau.
Dalam sambutannya, perwakilan pemerintah daerah menyampaikan bahwa peringatan ini merupakan wujud komitmen untuk menjaga memori sejarah agar tidak hilang oleh waktu.
> “Monumen ini bukan hanya simbol kesedihan masa lalu, tetapi juga pengingat agar kekerasan dan ketidakadilan tidak lagi terjadi dalam bentuk apa pun. Generasi muda perlu mengetahui dan memahami sejarah agar mampu membangun masa depan yang lebih manusiawi,” ujar salah satu pejabat yang hadir.
Selain prosesi peringatan, sejumlah kegiatan pendukung seperti pameran arsip lokal, diskusi sejarah, dan penampilan seni tradisi Mandar digelar untuk memperkaya pemahaman masyarakat.
Bagi masyarakat Tinambung, Galung Lombok bukan sekadar lokasi peringatan, tetapi tanah yang menyimpan jejak perjalanan panjang komunitas Mandar. Monumen Korban Panyapuan telah menjadi ruang belajar sejarah, sekaligus tempat warga menyalurkan doa bagi leluhur dan korban peristiwa tersebut.
Sejumlah warga yang ditemui Kompas menyatakan bahwa peringatan ini penting untuk menjaga kesadaran kolektif atas dampak konflik dan kekerasan.
> “Kami datang setiap tahun. Ini cara kami menghargai mereka yang telah pergi, sekaligus mengingatkan diri sendiri agar nilai kebersamaan tetap dijaga,” ujar seorang warga setempat
Pemerintah daerah menegaskan akan terus memperkuat upaya pelestarian kawasan cagar budaya tersebut. Perawatan monumen, penyusunan dokumentasi sejarah, dan kegiatan edukatif akan menjadi fokus agar situs ini tetap relevan bagi generasi berikutnya.
“Galung Lombok harus menjadi ruang publik yang hidup—tempat sejarah dihormati, namun tetap terbuka bagi kegiatan edukasi dan kebudayaan,” ujar seorang pegiat budaya Mandar.
Peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa di Galung Lombok kembali meneguhkan pentingnya menghargai sejarah sebagai bagian dari identitas kolektif. Melalui upacara ini, masyarakat Tinambung tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menegaskan komitmen untuk masa depan yang penuh perdamaian, persatuan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.(Timred).












